Film Ayat-Ayat Cinta itu….

March 3, 2008 – 6:37 am

 

Sudah beberapa hari yang lalu saya “menikmati” film Ayat-Ayat Cinta, pengin banget nulis apa-apa yang agak “mengganjal” dari film karya saudara saya om Hanung.

Sangat bisa dimaklumi kalau manusia itu seorang yang biasa dan bukan makhluk yang sempurna walaupun diantara makhluk-makhluk Allah, manusia bisa jadi menjadi makhluk yang paling sempurna jika ta’at kepadanya dan bisa jadi menjadi makhluk yang paling hina jika mengingkariNya.

Secara umum, memang jika dibandingkan dengan film-film “box office”nya Indonesia mungkin film Ayat-Ayat Cinta mungkin merupakan film religi paling “extreem” walaupun bagi saya masih kurang “extreem”.

Berikut sedikit gambaran apa sih yang menurut saya agak “nyleneh” dari film Ayat-Ayat Cinta berdasarkan tokoh utamanya:

1. Fahri
Hmm, “katanya” sih (saya belum baca novelnya, maklum gak suka baca novel…) di dalam novel Ayat-Ayat Cinta sosok Fahri merupakan sosok “Ikhwan” ideal yang mungkin bisa dijadikan sosok teladan bagi pembaca novel tersebut…
Nah, kenapa pada film Ayat-Ayat Cinta itu kok saya tidak mendapatkan sosok Fahri sebagai sosok teladan ya…?
Yang saya dapatkan sosok Fahri yang “ndeso”, gaptek, sikap yang kurang tegas dan kurang “ekstrim”.

Saya juga melihat sosok Fahri yang suka “berkhalwat” (suka berduaan) dengan seorang wanita bukan mahram ditempat yang sepi (seperti saat “jalan” dengan maria) dan kurang bisa menjaga pandangan.
Saya juga perhatikan ketika seorang tokoh non muslim mengucapkan salam, “Assalaamu’alaykum” kepada Fahri, kemudian dijawab,”Wa’alaykumussalaam” oleh Fahri, padahal seharusnya cukup dengan “Wa’alaykum”
“Artinya : Jika ada ahli kitab yang mengucapkan salam kepada kalian maka jawablah ‘wa alaykum”. [Muttafaq ‘Alaihi : Al-Bukhari dalam Al-Istidzan 6258, Muslim dalam As-Salam 2163]
Trus apalagi ya…? sementara itu dulu deh, sekarang pindah ke tokoh yang lainnya:

2. Aisha
Sosok muslimah ideal (baik agamanya, baik fisiknya, banyak hartanya dan baik nasabnya) yang berjilbab besar dan bercadar ini menurut saya memang cukup baik dalam berpakaian, alangkah bagusnya jika tokoh pemerannya (Rianti) melakukan hal yang sama dalam kehidupan sehari-harinya karena terlihat “cantik” dan bersahaja.

Yang kurang dari Aisha dalam film Ayat-Ayat Cinta nampak pada gaya “godaan”nya, terutama gayanya memandang Fahri dan juga kedipan matanya yang menarik Fahri… Sayang sekali jika seorang dengan busana yang bagus kok seperti itu…
Mungkin cuma disitu kekurangan utamanya disamping tokoh ini juga sering terlihat keluar rumah sendirian tanpa ditemani mahramnya..

3. Maria
Sosok wanita “ahlul kitab” yang suka dengan Islam, juga suka dengan Fahri. Terdapat keanehan, yaitu ketidakjelasan status kemuslimahannya… Kapan Maria pindah ke agama Islam..? di film Ayat-Ayat Cinta tidak diceritakan atau istilahnya “kena sensor”. Padahal ini adalah hal yang sangat-sangat penting dalam novel Ayat-Ayat Cinta dimana hidayah Allah datang melalui perkenalannya dengan muslim yang shalih.
Mungkin ini resiko ketika seorang sutradara muslim “bekerja” dengan “bos” atau produsen non muslim.

Mungkin ini dulu yak yang bisa saya tulis… O iya, ada info dari temen sebelah… katanya sih ada rencana novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya ustadz Habiburahman ElShirazy akan difilmkan tetapi akan ada MoU antara pihak penulis novel dengan pihak penggarap film diantaranya pemain-pemainnya harus orang yang juga memakai jilbab dalam kehidupan sehari-harinya.

Harapannya saya sih… semoga bisa segera terealisasikan, dan semoga juga ada bimbingan secara langsung oleh penulisnya atau ustadz-ustadz yang lain dalam pembuatan film sehingga tidak “keluar jalur”.

  1. 3 Responses to “Film Ayat-Ayat Cinta itu….”

  2. Assalaamu alaikum wr wb, setelah sedikit melihat AAC, selain yang antum sebutkan diatas, ada lagi yang menggelitik. di novel kang abik, digambarkan dengan jelas gimana panasnya mesir. namun di film kurang tergambar bagaimana panasnya mesir. :D tp overall salut buat sutradaranya..

    By bahagiasejahteradankeren on Mar 12, 2008

  3. Ass Wr Wb
    menyikapi sejuta comment tentang film AAC, ya udah lah nikmati saja novel n filmnya, SALUT unt Hanung Bramantyo yg berani MENDOBRAK PASAR PERFILEMAN dgn bikin film idealis ttg islam krn masyarakat kita HAUS akan hiburan berkualitas krn lebih banyak dicekoki film-film horor dan cerita cinta pasaran yg isi ceritanya gitu-gitu aja. Buat mas Hanung KITA TUNGGU film-film bermutu lainnya.

    By allea on Mar 14, 2008

  4. Baca aja, Yakin bagusan novelnya, lebih ngeh… Filmya juga mo diganti. Sang penulis protes katanya. Yang dibahas bukan keislaman secara ukhuwwah tetpi malah poligaminya. hehe… Sutdranya diganti Om Dedy Mizwar, aku pemeran utamanya (ngarep) hehe

    By alamovic on Mar 18, 2008

Post a Comment